Memaknai Ruang Penilaian
Oleh: Firdaus
Malam belum beranjak ketika berita tentang eksekusi para pelaku Bom Bali I menembus bilik rumah dan hinggap di telinga. Sambil memperbaiki letak bantal yang mengganjal kepala, dari penat yang membuncah, kuterawangi langit-langit kosong yang sering memberiku inspirasi untuk merangkaikan kalimat-kalimat indah. Namun, hingga pagi nyaris datang, tak dapat kucerna apa yang tengah menimpa negeri ini.
Dalam lamunan, Aku membayangkan ribuan orang desa eksodus ke kota, karena desa tempat mereka tinggal tidak menjanjikan harapan. Desa yang semestinya merupakan lumbung kehidupan masyarakat kota dan tempat penyemaian para pemimpin bangsa, entah mengapa saat ini bayangan indah itu seperti mimpi. Realitas saat ini desa dambaan tersebut tidak lebih dihargai hanya sebagai kantung suara. Pada realitas ini pun, yang ada hanya eksploitasi basis oleh orang-orang yang disebut “pemimpin”.
Kondisi desa itu merupakan sebuah cermin, dimana kondisi negara jika dapat dikatakan sudah sampai pada titik nadir. Dimana dan siapapun dapat berbuat sesuai kehendak, hal ini menjadikan serba boleh. Apapun boleh dilakukan, dengan tanpa ada konsekwensinya, dengan catatan asalkan mampu “membayar”. Kolusi, Korupsi dan Nepotisme merajalela. Setiap tingkat dan jabatan mendapatkan angkanya sendiri. Tidak terkecuali para pemimpin dan aparatur penegak hukum. Jadilah negeri ini surga bagi orang-orang yang memiliki materi dan atau memiliki “kekuasaan”. Tidak jarang, pemimpin dan aparatur penegak hukum bagi segelintir orang yang tercerahkan, tidak lebih merupakan terror bagi kelangsungan kesejahteraan bagi masyarakat negeri ini.
Dari realitas tersebut, masyarakat desa yang tidak memiliki daya beli dan tidak memilki kesiapan. Pasrah!. Mereka hanya mampu menjual tanpa ada tuntunan dari yang semestinya menuntun. Sehingga setelah tanah sebagai warisan habis, merekapun berbondong-bondong menjual harga diri. Diawali dengan eksodus ke kota, kemudian merambah ke mancanegara. Perjalanan masyarakat desa yang tidak dengan persiapan mental dan spiritual ini, melahirkan budaya baru. Budaya baru yang mereka anut terkadang banyak membuat gelisah para pini sepuh spiritual. Kemudian, budaya asupan itu menjelma menjadi angka kriminalitas. Maraknya aksi prostitusi, bunuh diri, dan pertunjukan kolosal para peminta-minta, yang mulai dari tepi jalan hingga gedung menjulang.
Sedikit orang yang tercerahkan, melihat penomena ini merupakan wujud ketidak mampuan para pemimpin dan lemahnya sikap mental birokrat dan paratur hukum. Sehingga pilihannya adalah perlawanan terhadap para pemimpin dan aparatur penegak hukum yang di identifikasi dengan Negara. Sehingga pada puncaknya, perlawanan yang dilakukan anak negeri yang tercerahkan menemukan ruang dan bentuk sesuai dengan latar belakang dan kemampuan masing-masing.
Pilihan kalangan muda akan perubahan terus bergulir. Orang muda tercerahkan dan memiliki keberanian generasi muda Banten yang telah menemukan ruang dan bentuk, melahirkan sosok seperti Imam Samudera.
Imam Samudra hingga tulisan ini dibuat masih menunggu eksekusi mati di penjara. Entah apapun sebutan orang untuknya, yang pasti Imam Samudra telah membangun romantisme heroik tentang jihad, tentang membela keyakinan, tentang keteguhan hati dan tentang pengorbanan. Terlepas salah dan benar persepsinya tentang nilai yang diperjuangkan, tetapi realitas Imam Samudera telah membuat ruang untuk orang menilai yang di perjuangkannya. Lamunanku sampai pada puncak pertanyaan. Siapakah yang lebih layak untuk di apresiasi, Imam Samudra atau orang yang dianggap berprestasi menuntut Imam Samudra hingga vonis hukuman mati? (Aku dedikasikan tulisan ini untuk keluarga Imam Samudera)
Tulis Komentar